mumpung masih di hari jum’at walaupun beberapa menit lagi hari sabtu menjelang, ada baiknya posting nya berbau religi….
beberapa hari yang lalu saya terima e-mail di salah satu milis yang saya ikuti yang isinya ternyata puisi terakhir oleh salah seorang maestro sastrawan indonesia yang terkenal dengan julukan si burung merak yaitu almarhum rendra.
puisi ini sangat betul2 menggugah dan mengingatkan saya utk selalu meletakkan pondasi pemikiran yg paling dalam bahwa segala sesuatu itu hanya titipan dan milik Allah. walaupun terkadang berat untuk menjalani karena yang namanya hawa nafsu pasti akan teriak/berontak jika kita kehilangan sesuatu.
mudah2an kita semua bisa memperlakukan keadaan yang seimbang saat menerima dan mengembalikan titipan Allah, amiin…….
===================================================
Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milik-ku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
Kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”….
(Puisi terakhir Rendra yang dituliskannya di atas ranjang Rumah Sakit)
===================================================